"Dan alangkah getir fatwa si empunya suka-cita di hati orang yang sengsara. Betapa kejam si kuat jika ia lalu berkhotbah diantara orang-orang lemah."
"Ya, tetapi kasih sayang si kaya terhadap si miskin tak berbeda daripada bentuk kecintaan pada materi. Dan simpati si kuat pada si lemah tak lain hanyalah gambaran membangga-banggakan diri dan keangkuhan belaka,"
"Kami lebih banyak harta dibanding orang desa, namun mereka lebih mulia jiwa. Kami banyak bercocok tanam tanpa menghasilkan apa-apa, sementara mereka menuai apa yang mereka semai. Kami adalah budak-budak kerakusan dan mereka putra-putra ketulusan. Kami meminum cawan kehidupan yang diluapi getir putus asa, ketakutan dan kegelisahan. Sementara mereka mereguknya sebagai air merta jiwa."
Source: Faazi L Kaelan. 1998. "Khalil Gibran - Penggali Kubur" Jakarta-Pustaka Jaya.
No comments:
Post a Comment